Syafrudin Hutagalung (alm) itulah nama bapakku. Biasanya orang sekampung lebih mengenal dengan Bapak ni si Pen (karena nama abangku paling gede adalah Fendri), sebenarnya sah ajakan kita menyebutkan nama bapak kita walau sudah meninggal.
Aku masih sangat sering merindukan beliau dan kadang berharap untuk hadir dalam mimpi-mimpiku walau hanya sekilas, bahkan kadang ga ingat lagi ngapain. 19 September 1999 bapak meninggal di rumah sakit Awal Bross Pekanbaru karena serangan stroke yang ke II, kali ini cuma bertahan 2 minggu di rumah sakit dan akhirnya menyerah. Kali ini bukan serangan stroke yang menyerang tapi juga serangan jantung yang sering muncul mendadak. Hari itu sebelum menghembuskan nafas terakhir terjadi serangan, mungkin karena itulah akhirnya meninggal. Serangan I terjadi thn 1991 waktu aku masih kelas 2 SMP, dari yang bagian tubuh mati sebelah sampai akhirnya bisa berjalan dengan baik dan bisa membawa motor. Luar biasa semangat bapak untuk sembuh, karena saat itu kami sudah memasuki masa remaja dan membutuhkan uang untuk biaya pendidikan. Diantara semangat berjuang untuk tetap bertahan dan “kekecewaan” dari kami anak-anaknya sama sekali tidak menurunkan semangat hidupnya. Sampai saat ini aku masih selalu menitikkan air mata kalau teringat akan hal itu. Memang bapak masih diperkenankan bekerja di perusahaan, tapi selama beberapa tahun tersebut bapak sama sekali tidak mendapat adjustment salary, bayangkan bertahun-tahun dengan biaya hidup yang semakin naik, bapak hanya masih menerima gaji yang sama. Tapi itupun tak pernah dikeluhkannya. Bapak bertahan bekerja hanya untuk memperjuangkan fasilitas kita anak-anaknya yang sangat membantu pada masa itu, dalam hati kecilnya aku percaya pasti beliau sangat kecewa karena diperlakukan tidak adil. Padahal waktu itu sudah sangat disarankan untuk pensiun dini, mungkin jumlahnya lumayan, tapi kalau dipakai untuk berobat selama bertahun-tahun tentu akan habis juga.
Aku, Sonya, Sui (adik-adikku) sangatlah manja, waktu bapak masih sehat kami sering disuapin makan, hahahha padahal waktu itu kita sudah cukup gede, tapi ya kolokannya tetap aja. Hmmmmm yang paling istimewa adalah bapak ku jago masak. Hahahaa bahkan aku pernah berujar bapak ajalah yang masak tiap hari, enak-enak sih. Tentu saja bikin amarah mamaku naik ke ubun-ubun ( ya namanya juga anak-anak). Setiap hari libur Natal/Tahun Baru or Lebaran bapak biasanya mengambil cuti, narik angkutan… Lumayan katanya hasilnya karena banyak sekali penumpang saat itu yang terbengkalai yang ingin mengunjungi sanak saudara.
Disekitar kompleks rumahku bapak sangat terkenal diantara anak-anak sekitar, setiap sepeda mereka kempis pasti dibawa kerumah dan minta opung (panggilan mereka untuk bapak) memompa atau menambalkannya. Pada masa musim rambutan dan mangga, anak-anak disana akan dibiarkan bebas untuk memanjat dipekarangan rumah. Tentulah kesempatan menyenangkan bagi mereka.
Masih jelas teringat bagaimana bapak membuat ayunan besar yang di’parkir’ disebelah rumah… bapak juga membuatkan lemari pakaian besar di kamar yang juga pernah jadi tempat memelihara anak kucing.. haha… trus kita sering berebut tidur di dalam lemari itu, mbil mainin anak kucing…
Ga bisa lupa kolam ikan dibelakang rumah yang dibuat oleh bapak, jadi tempat kita men-teror ikan2 yang akhirnya mati karena stress digangguin… hahaha… tapi bapak tidak pernah marah…
Dulu juga sering garukin punggung bapak pakai sisir kuning… kalo digarukin bapak pasti kesenangan… sampai tangan jadi capek karena bapak tidak puas2 digarukin…
Pernah juga kita ikatin rambut ikal bapak selagi bapak tidur, menjelang mau pergi kerja malam… bangun2 rambut bapak sudak penuh dengan ikat2an kecil di rambut… memang bapak sering jadi ’sasaran’ keisengan kita…. tapi bapak tidak pernah merasa terganggu….
Yang paling lucu (satu dari berjuta kenangan lucu).. sehabis makan kita selalu melakukan ‘tarian’ dengan gerakan loncat ditempat, tangan digulung2 dan menyanyikan “Cak kucang Lawe-lawe, cak kucang lawe-lawe” yang sebenarnya aku nga ngerti apa artinya… pokoknya senang aja melakukannya… apalagi sambil naik punggung bapak sambil bilang” Es kuda, es kuda” hahaha…
Bapak juga hobby bercocok tanam, diantaranya ada buah jambu yang luar biasa besar hasil cangkokan bapak… saking bangganya dengan buah jambu itu, kami dibangunkan dari tidur siang untuk berfoto sambil memegang buah
Ditahun I aku bekerja, aku tinggal di rumah.. Malam itu aku ingat sekali bapak bilang dengan bangganya, Ci.. nanti kalau udah gajian duitnya dibeliin obat untuk bapak ya. Ya pak.. pasti lah… ternyata hal itu tidak pernah terjadi.. karena sebelum aku menerima gaji I ku bapak sudah keburu meninggal.
Hari itu hari Minggu, hari ke 14 di rumah sakit.. kita semua menunggui di rumah sakit. Ada beberapa sodara yang datang membesuk, tiba-tiba mamaku berkata, kenapa ya aku ga suruh kalian bawakan jas bapak, untuk jaga-jaga. Biasanya kita datang di jumat malam dan akan pulang Minggu sore karena besoknya harus bekerja. Tapi hari itu tensi bapak turun sekali, dokter sudah menyuntikkan cairan agar tensi naik. Bapak pun keliatan sangat lesu.. tidak seperti biasanya ceria (semenjak sakit memang sudah tidak bisa berkata-kata). Sebelum pulang mama menyuruhku berdoa.. dan doaku waktu itu..jika memang Tuhan berkehendak, kami ikhlas Tuhan. Setelah itu kami berangkat pulang ke Duri yang jaraknya kira-kira 3,5 jam dari Pekanbaru. Sesampai di Duri baru saja kami duduk sebentar tiba-tiba telpon berdering dari abangku Iwan mengabarkan bahwa bapak meninggal. Sudah pasrah dan ikhlas tapi tetap saja saat itu datang.. kita tidak bisa saja ikhlas..
Sebelum libur lebaran kemaren mertuaku datang, papa mertua memang sedang sakit kanker. Sebelumnya kanker kerongkongan ini sudah diangkat sekitar 2 tahun lalu. Waktu mereka mau pulang ke Jakarta dimobil abang iparku menyampaikan pesan-pesan seandainya papa mertua meninggal apa yang harus dilakukan. Tak terasa air mataku hampir menitik.. kenangan itu muncul kembali. Terasa bagaimana perasaan “kehilangan” itu yang tak pernah hilang sampai saat ini. Beberapa hari kemudian mama mertuaku me sms katanya amang (papa mertua) seperti kehilangan semangat hidup. Argggghhhh tidak.. jangan.. Berjuanglah seperti bapak dulu, bertahanlah. Kami masih sangat membutuhkanmu. Diantara “kekecewaan” yang mungkin ada akan kami, masih banyak kebahagiaan yang ingin kami bagi bersama.
Bapak yang telah berada di surga.. Dapatkah meliat kami anak-anakmu? Cucu-cucu mu yang lucu-lucu… Aku percaya bapak sudah sangat bahagia di sana. Untuk hal-hal indah itu, 100 tahun pun tak membuat ku bosan dan puas hidup bersama bapak… I love you Dad….
Terima kasih Tuhan, Engkau menganugerahkan Bapak yang sangat Sempurna untuk kami….



